BI: Gerakan Non-Tunai Dilakukan Secara Bertahap
Oleh Arditya Pramono, pada Oct 21, 2017 | 06:11 WIB
BI: Gerakan Non-Tunai Dilakukan Secara Bertahap
Logo Bank Indonesia

GARUT, AYOPURWAKARTA.COM—Bank Indonesia bersama PT Jasa Marga terus mendorong seluruh pengguna jalan tol untuk bermigrasi meninggalkan sistem pembayaran tunai dengan e-toll.

Penerapan transaksi e-toll atau non-tunai tersebut dimantapkan dengan turunnya Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 16/PRT/M/2017 tentang Transaksi Tol Non-Tunai di Jalan Tol.

Dalam aturan tersebut pun disebutkan penerapan transaksi tol non-tunai bakal paten diterapkan di seluruh jalan tol pada 31 Oktober mendatang.

Kepala Tim Sistem Pembayaran Nontunai Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Hermawan Novianto menuturkan penerapan sistem e-toll merupakan bagian edukasi pemerintah kepada masyarakat terkait transaksi non-tunai.

"Ke depan sistem pembayaran non-tunai akan dipakai di segala bidang. Sekarang dilakukan bertahap dulu salah satunya e-toll," kata Hermawan saat memberikan materi Kebijakan Implementasi Transaksi Non-Tunai di Indonesia pada acara pelatihan wartawan ekonomi se-Jabar di Kampung Sampireun, Kabupaten Garut pada Jumat (19/10/2017).

BI mengharapkan penerapan sistem e-toll mampu memberikan gambaran kepraktisan transaksi non-tunai kepada masyarakat.

Menurutnya, nominal transaksi e-toll bagi pengguna jalan tol tergolong kecil, sehingga tidak memiliki risiko tinggi.

"Sistem transaksi non-tunai sangat cocok dilaksanakanan di tol karena bersifat masif. Pengguna tol jumlahnya amat banyak," katanya.

Selain itu, transaksi e-toll mensyaratkan kecepatan yang senapas dengan transaksi non-tunai pada umumnya.

Hermawan optimistis, penerapan e-toll mampu menunaikan misi BI dan pihak terkait dalam mengenalkan transaksi non-tunai kepada masyarakat.

Pihaknya hingga saat ini masih terus menggenjot upaya menggeser dominasi transaksi tunai menjadi non-tunai hingga beberapa tahun ke depan.

Penerapan transaksi non-tunai ini diperlukan lataran sifatnya yang lebih cepat, akurat, dan efesien. Asas efisiensi ini juga tercermin dari konsekuensi penerapan transaksi non-tunai di segala lini.

Jika transaksi non-tunai berkembang, maka gelontoran dana sekitar Rp3,5 triliun per tahun untuk pencetakan dan pengelolaan uang rupiah fisik bisa ditekan.

Kendati demikian, jalan untuk tiba pada tujuan tersebut masih panjang. Saat ini, Indonesia tercatat baru mampu menerapkan transaksi ritel non-tunai di bawah angka 1%. Persentase ini masih lebih buruk ketimbang negara tetangga macam Thailand (2.8%), Malaysia (7.7%), dan Singapura (44.5%).

"Dibanding dengan negara-negara peer Asean lainnya, persentase transaksi ritel dengan uang tunai di Indonesia paling tinggi, yakni 99.4%," ujar Hermawan. Secara bertahap, BI memasang target komposisi transaksi ritel nontunai mencapai 25% pada 2024 mendatang.

Editor : Adi Ginanjar
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Socmed Ayo Bandung 160x600